Ketika kita berhadapan dengan kata vaksin, maka yang muncul dibenak kita adalah alat suntik, dan akan memasukkan serum melalui jarum kedalam tubuh kita. Pengertian dari vaksin adalah zat yang sengaja dibuat untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari penyakit tertentu, sehingga bisa mencegah terjangkit dari penyakit tertentu tersebut.
Vaksin biasanya mengandung agen yang menyerupai mikroorganisme penyebab penyakit dan sering dibuat dari mikrob yang dilemahkan atau mati, dari toksinnya, atau dari salah satu protein permukaannya. Agen merangsang sistem imun untuk mengenali agen sebagai ancaman, menghancurkannya, dan untuk lebih mengenali dan menghancurkan mikroorganisme yang terkait dengan agen yang mungkin ditemui di masa depan. Vaksin dapat bersifat profilaksis (misalnya untuk mencegah atau memperbaiki efek infeksi di masa depan oleh patogen alami atau "liar") atau terapeutik (misalnya vaksin terhadap kanker)
Saat ini sudah ada 30 jenis vaksin yang diciptakan sejak konsep vaksinasi dilakukan Edward Jenner pertama kalinya pada 1796. Bukti keberhasilan vaksin adalah musnahnya penyakit Variola (small pox) pada 1979. Sekarang kita juga dalam upaya memusnahkan campak dan polio. Indonesia sendiri saat ini bebas polio karena program imunisasi.
Pengembangan vaksin untuk melindungi terhadap penyakit virus adalah salah satu keunggulan dari obat modern. Vaksin pertama diproduksi oleh Edward Jenner pada tahun 1796 dalam upaya untuk memberikan perlindungan terhadap cacar. Jenner menyadari bahwa milkmaids yang telah tertular cacar sapi, infeksi yang relatif tidak berbahaya, tampaknya tahan terhadap cacar, penyakit manusia yang secara teratur mencapai tingkat epidemi dengan angka kematian yang sangat tinggi. Jenner berteori tentang cacar sapi, penyakit hewan, tidak berbeda dengan penyakit cacar. Dia menyimpulkan bahwa reaksi manusia ke suntikan virus cacar sapi entah bagaimana akan mengajarkan tubuh manusia untuk menanggapi kedua virus ini, tanpa menyebabkan penyakit berat atau kematian. Saat ini, cacar benar-benar diberantas. Hanya dua sampel beku dari virus ganas yang ada (satu di Amerika Serikat, yang lain di Rusia), dan pada pertengahan tahun 1995 ada perdebatan ilmiah yang serius tentang apakah akan menghancurkan sampel, atau menyimpan mereka untuk studi laboratorium lebih lanjut.
Virus adalah sedikit kecil RNA (asam ribonukleat) dan / atau DNA (asam deoksiribonukleat), bahan dalam semua sel hidup yang menginstruksikan sel bagaimana untuk tumbuh dan berkembang biak. Virus tidak dapat mereproduksi dengan sendirinya, tapi hanya dengan mengambil alih inti sel host dan memerintahkan sel untuk membuat virus tambahan. Ketika virus berhasil menyerang organisme, itu mengambil alih proses pertumbuhan sel dalam host. Dalam keadaan biasa, tubuh manusia bereaksi terhadap invasi virus dengan beberapa cara berbeda. Kekebalan untuk virus dapat dikembangkan oleh sel-sel dalam tubuh yang menjadi sasaran invasi virus. Dalam situasi ini, virus akan dicegah dari mendapatkan akses ke sel inang. Sebuah perlindungan yang lebih umum adalah kemampuan tubuh untuk mengembangkan sel-sel darah dan getah bening yang merusak atau membatasi efektivitas dari virus menyerang. Seringkali, tubuh manusia yang terinfeksi akan "pelajari" bagaimana merespon terhadap virus tertentu di masa depan, sehingga infeksi tunggal, terutama dari virus yang relatif jinak, biasanya mengajarkan tubuh cara untuk merespon invasi tambahan dari virus yang sama. Flu biasa, misalnya, disebabkan oleh salah satu dari beberapa ratus virus. Setelah sembuh dari pilek, kebanyakan orang resisten terhadap virus tertentu yang menyebabkan gejala influenza pada umumnya , meskipun virus influenza serupa masih akan menyebabkan gejala yang sama atau identik. Untuk beberapa virus berbahaya, seseorang mungkin mengembangkan kekebalan tanpa menjadi tampak sakit.
Hasil sebuah studi besar di AS menunjukkan bahwa program vaksinasi telah mengurangi prevalensi penyakit berkaitan di antara anak-anak dan orang dewasa muda di Amerika Serikat.1 Contohnya Hepatitis B. Prevalensi infeksi hepatitis B turun secara signifikan antara anak-anak usia antara 6 dan 19 tahun (1,9-0,6%, <0,01), dan di antara orang dewasa muda berusia antara 20 dan 49 tahun (5,9-4,6%, p <0,05). Sebaliknya, prevalensi sedikit meningkat di antara mereka yang berusia lebih dari 50 tahun (7,2-7,7%). Selain itu, para peneliti menemukan penurunan 79% dalam prevalensi infeksi hepatitis B kronis di antara anak-anak (0,24 0,05%), walaupun penurunan ini secara statistik tidak signifikan. Tingkat infeksi hepatitis B di masa lalu dan masa kini dari kelompok 1999-2006 adalah lebih tinggi di antara orang kulit hitam non Hispanik (12%) dan orang dari etnis lainnya (13%), dibandingkan dengan mereka yang berkulit putih (2,8%) dan orang Amerika Meksiko (2,9%). Selanjutnya, para peneliti menemukan bahwa terdapat proporsi yang jauh lebih tinggi dari orang-orang lahir di luar AS terinfeksi dengan hepatitis B daripada mereka yang lahir di AS (12,2% vs 3,5%).
Pada periode 1999-2006, 23% dari individu telah menerima vaksin kekebalan hepatitis B yang diinduksi. Kekebalan tertinggi terlihat di antara anak-anak (57%), diikuti oleh orang dewasa muda (17%) dan terendah di antara mereka yang berusia lebih dari 50 tahun (7,5%). Prevalensi dari vaksin kekebalan yang diinduksi meningkat secara signifikan dari 20,5% pada periode antara tahun 1999 dan 2002 menjadi 25,2% selama tahun 2003 sampai 2006 (p <0,001).(1)
Sejarah Pembuatan Vaksin
“Vaksin” berasal dari kata vacca yang berarti sapi. Penemuan vaksin telah mencegah kesakitan bahkan kematian jutaan orang di seluruh dunia. Vaksin dapat diartikan sebagai suspense virus atau bakteri yang lemah atau mati untuk menimbulkan imunitas. Vaksinasi sendiri diartikan sebagai tindakan pemberian vaksin untuk menimbulkan imunitas.(2)
Dunia sudah selayaknya mengucapkan terima kasih untuk pionir-pionir seperti Jenner dan Pasteur. Mereka telah menemukan vaksin yang mencegah tingginya angka kesakitan dan kematian. Namun demikian, kondisi masih memprihatinkan, bahkan dirasakan tragis, karena menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), hampir dua juta anak-anak masih menjadi korban penyakit tiap tahun. Lebih dari 90.000 orang anak mengalami kelumpuhan polio yang mestinya bisa dicegah melalui imunisasi.
Menutup tahun-tahun pada abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 ditandai dengan munculnya achievements of great vaccine scientist seperti Pasteur. Sejak Jenner vaccinia 200 tahun yang lalu diperkenalkan, sembilan penyakit utama manusia telah dapat dikendalikan dengan penggunaan vaksin: smallpox (1798), rabies (1885), plague (1897), difteri (1923), pertusis (1926), tuberculosis/BCG (1927), tetanus (1927), dan yellow fever (1935). Beberapa vaksin digunakan secara individu di daerah dengan risiko penyakit seperti rabies dan plague, tetapi tidak pernah digunakan secara sistematis dalam skala global. Sementara BCG telah secara meluas digunakan untuk bayi-bayi, yang secara sukses dapat mencegah komplikasi seperti meningitis dan miliary tuberculosis.
Ada banyak informasi mengenai sejarah penggunaan vaksin yang telah dipublikasikan. Antara lain pada vaksin BCG pada tanggal 24 April 1927, dokter Albert Calmette dan seorang peneliti bernama Camille Guerin berhasil menemukan vaksin untuk mengobati penyakit TBC, yang dinamakan vaksin bacillus calmette guerin (BCG). Penelitian mereka untuk menemukan vaksin itu telah dimulai sejak 1906 ketika Guerin menemukan bahwa ketahanan terhadap penyakit TBC berkaitan dengan adanya bakteri tubercle bacilli yang hidup di dalam darah.
Pada tahun 1921 mereka berhasil mengembangkan jenis basil yang tidak berbahaya bagi manusia. Setelah kedua peneliti berhasil menemukan vaksin BCG, vaksin ini diujicobakan kepada bayi-bayi di Paris. Namun, pada 1930 program vaksinasi BCG sempat menimbulkan bencana dengan meninggalnya sejumlah bayi di Jerman akibat TBC justru setelah mereka divaksin. Pada 1950 University Illinois di AS mendapat lisensi untuk memproduksi vaksin ini dan menjualnya di AS. Namun, karena pertentangan di masyarakat AS atas penggunaan vaksin BCG masih kuat, maka vaksin ini tidak digunakan secara rutin.
Vaksin cacar tidak dapat dipisahkan dari Edward Jenner (1749-1823). Jenner mendengar cerita bahwa jika seorang tertular cacar sapi yang sering terjadi pada pemerah sapi pada waktu itu, maka dia akan menjadi kebal dan terlindung dari penyakit cacar yang pada saat itu masih mewabah. Ia melakukan observasi sistematis dan melakukan eksperimen terhadap seorang anak. Jenner mengambil darah dari vesikel di tangan pemerah susu yang tertular cacar sapi, kemudian menginokulasi cairan tersebut pada dua irisan sepanjang 2,5 inci pada lengan anak tersebut. Enam minggu kemudian ia memvariolasi (memaparkan virus cacar dari penderita cacar ke manusia sehat) ke lengan anak tersebut dan tidak menunjukkan suatu reaksi.
Variolasi diulang beberapa bulan kemudian ternyata hasilnya tetap sama. Jenner menyusun tulisan ilmiahnya tentang kekebalan terhadap cacar pada manusia yang pernah tertular cacar sapi. Ia juga melakukan survei nasional yang mendukung teorinya. Sesudah penemuan Jenner diujicoba dan dikonfirmasi banyak ilmuwan lain, vaksinasi cacar mulai meluas di London untuk kemudian menyebar di Inggris, seluruh Eropa, dan dunia.
Pasteur (1885) memperkenalkan cara penanggulangan penyakit akibat gigitan tersangka rabies dengan menggunakan cara vaksinasi menggunakan vaksin anti rabies (VAR). VAR yang digunakan ini kemudian mengalami perkembangan berupa perbaikan, baik menyangkut substrat yang digunakan maupun yang menyangkut cara inaktivasi dari virus hasil panen. Ini sebagai usaha untuk mendapatkan vaksin yang lebih imunogenik dan lebih aman.
Seperti diketahui rabies adalah penyakit menular yang akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan virus RNA dari golongan famili Rhabdoviridae yang terdapat dalam air ludah dari hewan ataupun manusia yang menderita anjing gila. Virus yang bersifat neurotrop ini sebetulnya penyebab penyakit terutama pada hewan, namun dapat menular kepada manusia terutama melalui gigitan hewan.
Beberapa vaksin yang masih digunakan saat ini adalah vaksin yang perkembangannya sudah sangat tua, dan telah dikembangkan 50-80 tahun yang lalu dan hanya terdapat perubahan sedikit dari perkembangannya dari kurun setelah itu. Meskipun vaksin yang lebih baru telah berubah dari vaksin lama, konstruksinya tetap berdasarkan dari ekstrak larutan (suspension) bakterial atau viral. Beberapa vaksin yang dipasarkan pada saat ini masih menggunakan teknologi lama. Sebagai contoh difteri dan tetanus toxoid, whole cell pertusis vaccine, dan BCG.
Produksi dan metoda pengujian secara esensial relatif tidak pernah berubah dari saat mendapatkan lisensi. Vaksin viral hidup, seperti oral polio vaksin (OPV), masih digunakan diseluruh dunia kecuali di AS. Campak, dan vaksin yellow fever tidak pernah berubah dari sejak era 1960. Bahkan, vaksin yang relatif baru, yaitu vaksin recombinant hepatitis B, sudah berumur lebih dari 20 tahun.
Jenis-Jenis Vaksin(3)
1. Live vaccines
a. Jenis vaksin yang pertama ditemukan dan masih paling efektif.
b. Sangat efektif karena:
· Berkembang biak sehingga terus menyediakan antigen yang cukup.
· Replikasi intraseluler, menyediakan antigenic peptide kepada MHC (Major Histocompatibility Complex) kelas 1 sehingga merangsang CTLs (sel T sitotoksik).
· Replikasi yang terjadi pada tempat infeksi membuat respon imun terfokus.
2. Killed organism vaccines
a. Umumnya tidak seefektif live vaccine dalam menimbulkan suatu respon imun protektif.
b. Lebih aman dari live vaccine.
c. Hanya menimbulkan respon imun humoral, hal ini yang menyebabkan killed organism vaccine tidak memiliki efek proteksi sebaik live vaccine.
3. Subunit (purified protein) vaccines
a. Toxoid vaccines
· Berasal dari eksotoksin bakteri.
· Tidak mencegah langsung infeksi, tetapi mencegah komplikasi.
b. Recombinant subunit vaccines
· Berisi peptide sintetik yang merupakan antigen ekstraseluler.
· Bekerja dengan cara difagositosis kemudian dicerna dan diekspresikan melalui HLA (Human Leukocyte Antigen) kelas 2.
c. Conjugate polysaccharide vaccines
· Dibuat dari kapsul polisakarida yang dimiliki beberapa jenis bakteri (Penumococcus sp, Haemophilus sp, Menigococcus sp).
· Vaksin ini tidak terlalu immunongenik dan sering tidak menginduksi IgG respond an long lasting protection.
Salah satu cara memperbaiki hal tersebut adalah dengan mengkonjugasi vaksin tersebut dengan protein carrier agar lebih imunogenik.
Perbandingan Vaksin Hidup dengan Vaksin Inaktif(4)
Keuntungan vaksin hidup :
- Proteksi lama setelah vaksinasi satu kali.
- Merangsang pembentukan sistem imun secara luas termasuk respon sel T dan respons mukosa IgA.
- Menyebarluaskan imunitas herd (menimbulkan imunitas pada orang yang tidak divaksinasi).
Kerugian vaksin hidup :
- Dapat menimbulkan penyakit pada orang imunkompromais yang tak terdiagnosis.
- Dapat berubah menjadi virulen.
- Tak dapat dilakukan imunisasi pada bayi yang masih mempunyai antibodi ibu.
- Untuk mempertahankan potensi perlu penyimpanan dan transportasi pada suhu 4oC atau yang sangat rendah (contoh : vaksin polio oral harus disimpan pada suhu – 20° C).
- Lebih reaktogenik.
Keuntungan vaksin inaktif :
- Aman karena tak ada risiko jadi virulen.
- Mudah di produksi dan disimpan.
- Dapat digunakan pada bayi tanpa interferensi dengan antibodi yang berasal dari ibu.
- Toleransi lebih baik
Kerugian vaksin inaktif :
- Memerlukan penggunaan berulang untuk mempertahankan proteksi.
- Rangsangan imunitas seluler dan mukosa kurang.
Pada keadaan tertentu dapat menimbulkan penyakit karena imbalans respons imun.
Infeksi Virus(5,6)
Pada awalnya virus masuk ke dalam tubuh lalu akan masuk ke dalam sel (intraseluler). Maka sel yang terinfeksi itu akan difagosit dengan sel APC yang professional yaitu dendritik sel. Dendritik sel akan mengeluarkan 2 jenis MHC yang akan memperkenalkan antigen kepada kedua sel T limfosit yaitu CD4 dan CD8,hal ini yang disebut cross presentation.
Virus yang ada di dalam sel yang telah difagosit oleh sel dendritik akan mengalami degradasi oleh organel dalam sel yaitu proteasom.Hasil degradasi protein virus tersebut adalah potongan peptide kecil yang nantinya akan bertemu dengan MHC kelas 1 yang disintesis di reticulum endoplasma.peptida virus dibawa oleh transporter untuk menuju ke reticulum endoplasma dan bertemu dengan MHC kelas1.Setelah ikatan mereka stabil maka MHC kelas 1 yang membawa peptide tersebut akan menuju ke permukaan sel untuk memperkenalkan antigen pada sel CD8.
Setelah proses MHC kelas 1, sel dendritik yang sama juga mengekspresikan MHC kelas 2 sehingga akan ada perkenalan antigen juga kepada sel CD4.dengan adanya pengekspresian MHC,antigen dan costimulator (B7) maka terjadilah aktivasi sel limfosit T CD4 dan CD8.
Pada infeksi virus, dendritik sel mengeluarkan 2 ekspresi MHC dan antigen serta costimulator,maka CD4 limfosit T akan aktif dengan adanya MHC kelas 2 dan akan mengeluarkan sitokin yaitu interferon gamma untuk aktivasi sel CD8 Tlimfosit menjadi sel sitotoksik (efektor) dan sel memorinya, inilah yang disebut cross presentation.Lalu sel sitotoksik tersebut akan mengeluarkan perforin untuk membuat lubang pada sel tersebut dan juga mengeluarkan granzim untuk memulai pengaktifan apoptosis.Selain itu dengan adanya ekspresi FAS ligan dan FAS di target sel maka akan mengaktifkan apoptosis sehingga sel target mati.
Selain dengan dendritik yang membawa sel yang terindeksi virus, virus yang telah difagosit makrofag juga bisa dimatikan dengan sel sitotoksik. Dengan awalnya harus berkenalan dengan CD4 yang mengeluarkan interferon gamma dan juga CD8 yang akhirnya mengapoptosiskan makrofag tersebut.
Namun, ada beberapa virus yang tidak menekspresikan MHC kelas 1, maka virus jenis ini akan dihancurkan oleh natural killer cell.
Mekanisme Vaksin Virus
a. Vaksin hidup yang telah dilemahkan (Live attenuated vaccine)
Jenis vaksin ini lebih baik dan lebih bertahan lama dibandingkan vaksin yang telah dimatikan.
Mekanisme kerja dari vaksin ini adalah sebagai berikut:
Vaksin yang telah dilemahkan tetapi masih hidup ini apabila terdapat dalam tubuh dapat memberikan respon imun yang besar virus yang telah dilemahkan agar dikenali oleh APC untuk pada akhirmya APC akan berada pada limfonodus APC mengenali reseptor T-cell (TCR) mengaktifkan sel T helper 1 dan 2. Apabila Th 1 yang teraktivasi dengan bantuan IL 2 dan pengenalan terhadap MHC I stimulasi sitotoksik sel T dan membuat sel memori T pada antigen vaksin yang diberikan. Apabila Th 2 yang teraktivasi dengan bantuan IL 4 dan IL 5 mengaktifkan sel B class switching IgM menjadi IgG dan IgA
Alasan mengapa vaksin hidup lebih efektif daripada vaksin mati adalah:
- Vaksin ini menginduksi titer antibodi tertinggi dan proteksi lebih lama
- Menginduksi bermacam-macam antibodi seperti IgA dan IgG, tidak hanya IgG
- Mengaktivasi sel T sitotoksik
- Melakukan replikasi pada tempat infeksi sehingga membuat respon imun terfokus
Namun, terdapat kelemahan dari vaksin ini yaitu memiliki risiko terbesar karena mereka dapat bermutasi kembali ke bentuk virulen setiap saat. Mutasi tersebut akan menyebabkan timbulnya penyakit daripada membuat perlindungan tubuh. Untuk alasan ini, vaksin dilemahkan tidak dianjurkan untuk digunakan pada pasien immunocompromised.
b. Vaksin yang dimatikan (dead vaccine)
Mekanisme vaksin yang dimatikan:
Karena vaksin ini berisi virus yang telah dimatikan maka susunan mikroorganismenya hanyalah polisakarida dan lipid pengaktifan respon imun humoral yang non T dependent tidak terdapat class swithing pada sel B, tidak merangsang respon memory sel sehingga vaksin ini kurang efektif.
c. Vaksin subunit
Tidak bereplikasi dan relative jarang ada efek samping. Peptidanya tidak memproduksi danger signal untuk efek lebih baik bisa ditambahkan dengan adjuvant.
Mekanisme:
Conjugate polisakarida vaksin.
Vaksin pneumococcus,meningococcus dan haemophillus merupakan vaksin polisakarida yang harus diberi pada bayi atau anak kecil namun karena vaksin ini merupakan vaksin polisakarida maka respon imun yang dihasilkan lemah dan hanya bergantung pada respon T independent yang belum dimiliki sempurna oleh anak kecil dan bayi, hal inilah yang membuat adanya konjugat polisakarida supaya sel B yang menangkap antigen ini akan memperkenalkan kepada sel T dan menghasilkan redpon imun humoral yang memiliki memori sel, dapat melakukan switching menjadi IgG sehingga memiliki perlindungan jangka panjang dan afinitas maturisi sehingga respon imun semakin meningkat, dan tentunya tidak menimbulkan infeksi bagi sipenerima vaksin.
Pada vaksin ini perlu adanya adjuvant yang bertujuan untuk mengkonsentrasikan antigen pada tempat dimana limfosit akan terpajan kepadanya dan mendatangkan respon imun alamiah,yang meningkatkan ekspresi kostimulator dan produksi sitokin IL12 yang menstimulasi pertumbuhan dan diferensiasi sel T. adjuvant yang digunakan adalah garam alumunium.Dikarenakan vaksin subunit menggunakan adjuvant maka penyuntikannya di intramuscular karena garam alumunium ini dapat menyebabkan nekrossis bila disuntikkan di subkutan.
Manfaat Vaksin(4)
Manfaat vaksin yang digunakan pada orang dewasa di Indonesia datanya amat terbatas. Data di negara maju menunjukkan bahwa efektivitas vaksin Hepatitis B dalam mencegah penyakit 80% sampai 95%. Efektivitas ini menurun pada kelompok lanjut usia. Vaksin influenza dapat menurunkan insidens influenza 70% sampai 90%. Sedangkan efektivitas vaksin pnemokok 60% sampai 64%. Pada kelompok usia di atas 65 tahun efektivitas vaksin ini 44% sampai 61%. Vaksin campak akan menimbulkan imunitas yang bertahan lama pada sekitar 95% orang yang divaksin. Jika vaksinasi diulang maka imunitas akan timbul pada 90% nonresponder. Vaksin gondongan akan menurunkan insidens penyakit 75% sampai 95% dan begitu pula rubella efektivitasnya hampir menyamai campak. Vaksin tetanus jika digunakan secara benar dapat mencegah tetanus 100% dan vaksin difteri 85%.
Vaksin-Vaksin Virus yang Wajib
JENIS | UMUR PEMBERIAN | ||||||||||||||||||||||
BULAN | TAHUN | ||||||||||||||||||||||
L H R | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 12 | 15 | 18 | 24 | 3 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 12 | 18 | |
BCG | 1x | ||||||||||||||||||||||
HEPATITIS B | 1 | 2 | 3 | ||||||||||||||||||||
POLIO | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | |||||||||||||||||
DTP | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||||||||||||||||||
CAMPAK | 1 | 2 | |||||||||||||||||||||
1. BCG : Bacille Calmette Guerin
Vaksin ini ditemukan pertama kali pada tahun 1921 oleh Albert Calmette seorang mokrobiologi dan Camille Guerin seorang dokter hewan, yang keduanya berasal dari Perancis.
Vaksin ini dibuat dari bakteri penyebab tuberkulosis (mycobacterium bovis) yang sudah dilemahkan.
Manfaat: Perlindungan terhadap Tuberkulosis (TB).
Diberikan pada: Bayi baru lahir sebelum usia 2 bulan.
Bila sudah berusia lebih dari 2 bulan, maka harus dilakukan test Mantoux (tuberkulin) lebih dahulu untuk mengetahui apakah bayi positif atau negatif terinfeksi "Mycobacterium tuberculosis". Bila negatif, baru boleh diberikan vaksinasi.
Lama perlindungan: Sampai 15 tahun dengan tingkat efektifitas optimal sebesar 40%.
Tidak perlu diulang karena vaksinnya terbuat dari bakteri hidup yang dilemahkan, sehingga antibodi yang dihasilkan akan selalu diproduksi tubuh.
2. Hepatitis B :
Diwajibkan di lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia.
Manfaat: Mencegah infeksi virus hepatitis B yang dapat menyebabkan penyakit sirosis (pengerutan hati) dan akhirnya bisa menjadi kanker hati.
Diberikan pada: Bayi berumur minimal 12 jam, kondisinya stabil, tidak ada gangguan paru paru dan jantung.
Lama perlindungan: Bila kadarnya sesuai, anak sudah terproteksi.
Tidak perlu diulang, dengan syarat pemberiannya sesuai jadwal yaitu : umur 0, umur 1 bulan, dan umur 6 bulan.
3. Polio
Dibuat dari virus polio yang sudah dimatikan. Vaksin ini sudah dikembangkan dan diberikan secara oral sejak tahun 1962.Vaksin yang diberikan dengan suntikan dikenal sebagai IPV (Inactivated Polio Vaccine), sedangkan yang diberikan secara oral disebut OPV (Oral Polio Vaccine).
Manfaat: Mencegah infeksi virus polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan.
Diberikan pada: Bayi yang baru lahir. Selanjutnya diberikan lagi pada umur 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan(7) atau umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan.
Lama perlindungan: Seumur hidup, asal pemberiannya hingga umur 6 tahun sesuai jadwal.
Pemberian vaksin, diulang setelah umur 18 - 24 bulan (ulangan pertama), dan 5-6 tahun (ulangan ke-2) saat anak masuk sekolah. Total seluruh imunisasi polio adalah 6 kali. Vaksinasi perlu diulang pada saat Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan RI.
4. DPT
Terbuat dari komponen bakteri (toksoid) Difteri dan Tetanus yang telah dimurnikan, serta bakteri Pertusis yang telah dilemahkan.
Manfaat: Mencegah infeksi penyakit difteri, tetanus, dan batuk partusis.
Diberikan pada: Bayi umur 6-8 minggu, dilanjutkan pada umur 3-4 bulan atau 4-6 bulan.
Boleh diberikan bersamaan dengan vaksinasi BCG, Campak, Polio (OPV dan IPV), hepatitis B, HiB, dan vaksin "yellow fever".
Lama perlindungan: Seumur hidup, asal pemberian vaksin hingga umur 12 tahun sesuai jadwal.
Diulang pada umur 18 bulan (pertama), dan 1 kali pada usia 5 tahun. Selanjutnya pada usia 12 tahun diberikan imunisasi TT (Tetanus Toxoid).
5. Campak
Dibuat dari virus hidup yang dilemahkan. Di negara - negara yang memiliki angka kejadian dan kematian tinggi, vaksinasi diberikan mulai umur 9 bulan. Sedangkan di negara-negara dengan kasus kejadian rendah, vaksinasi campak diberikan dalam bentuk MMR (Mumps Measles Rubella) yang diberikan pada bayi setelah usia 12 bulan.
Manfaat: Memberikan perlindungan dari infeksi virus Paramyxovirus penyebab campak atau morbil.
Diberikan pada: Bayi berumur 9 bulan (vaksin campak) atau dalam bentuk MMR diberikan pada rentang umur 12 - 15 bulan.
Lama perlindungan: 5 tahun
Diulang: Setelah anak usia 6 tahun saat masuk sekolah dasar, baik untuk campak maupun MMR.
Cara Pemberian & Kontraindikasi Pemberian Vaksin
Pada umumnya, vaksin diberikan secara parenteral. Hal ini dapat menimbulkan resiko transmisi penyakit. Di samping itu, cara ini memerlukan teknik tertentu. Pemberian Intra Muskular (IM) atau Subkutan (SQ) harus didahului aspirasi sebelum vaksin dimasukkan, karena bila terjadi suntikan Intra Vena (IV) maka efek imunisasi akan berkurang dan untoward reactions akan meningkat.
Tempat injeksi disarankan lebih baik pada anterolateral paha atau deltoid, daripada buttocks untuk menghindari kerusakan nervus sciatus atau masuk ke jaringan lemak. Penyuntikan SQ pada bayi : paha anterolateral untuk usia 1-3 tahun dan paha anterolateral atau lateral tangan lengan atas untuk usia di atas 3 tahun. Penyuntikan IM pada bayi atau anak kurang dari 3 tahun dilakukan dipaha anterolateral atau musculus vastus lateralis sedangkan untuk diatas 3 tahun disuntikan pada deltoid dibawah acromnion.
Oleh karena umumnya organism penyebab infeksi masuk lewat permukaan mukosa, maka mucosal immunization merupakan suatu hal yang logis, dan keberhasilan vaksinasi polio oral membuktikan hal tersebut.
Pemberian vaksin mempunyai kontraindikasi. Kontraindikasinya antara lain(8) :
1. Sedang sakit dalam stadium akut, seperti infeksi saluran nafas atau diare. Dalam keadaan ini imunisasi sebaiknya ditunda.
2. Sebelumnya pernah mengalami reaksi yang tidak diinginkan, seperti :
a. Reaksi lokal yang hebat, misalnya kemerahan ataupun indurasi yang luas pada tempat suntikan
b. Reaksi sitemik misalnya anafilaksis, spasme bronkus, edema laring, demam lebih dari 39,5o C selama 72 jam, gelisah menangis lebih dari 4 jam, dan kejang dalam waktu 72 jam.
3. Hamil. Dalam kondisi hamil, sebaiknya live vaccines ditunda pemberiannya, kecuali pada keadaan tertentu seperti akan melakukan perjalanan.
4. Immunodefisiensi. Beberapa keadaan merupakan kontraindikasi berkaitan dengan ini, seperti :
a. Dalam enam bulan setelah menerima kemoterapi atau radioterapi untuk pengobatan keganasan.
b. Setelah menerima tranplantasi organ dan menggunakan immunosupresan.
c. Dalam 6 bulan menerima transplantasi sum-sum tulang.
d. Menderita immunodefisiensi primer atau sekunder yang berkaitan dengan sistem imun seluler.






0 comments:
Post a Comment