Sunday, 22 November 2020

Sensori Integrasi

SENSORI INTEGRASI

Apa itu SensorI Integrasi ?

    Bagi sebagian yang berprofesi pada pertumbuhan dan perkembangan anak, Sensori Integrasi (SI) sudah sering kali diketahui. Namun sebagian besar masyarakat luas masih belum mendapatkan informasi tentang SI. Sensori integrasi merupakan proses mengenal,mengubah, dan membedakan sensasi dari sistem sensori untuk menghasilkan suatu respons berupa “perilaku adaptif” terhadap suatu stimulasi. Pendekatan Sensori Integrasi ini sendiri dilakukan oleh tenaga medis okupasi terapi.
    Pada tahun 1972 A. Jean Ayres memperkenalkan suatu model perkembangan manusia yang dikenal dengan teori sensori integrasi (SI). Menurut teori Ayres, SI terjadi akibat pengaruh input sensori, antara lain sensasi melihat, mendengar, taktil, vestibular, dan proprioseptif. Proses ini berawal dari dalam kandungan dan memungkinkan perkembangan respons adaptif, yang merupakan dasar berkembangnya ketrampilan yang lebih kompleks, seperti bahasa, pengendalian emosi, dan berhitung. Adanya gangguan pada ketrampilan dasar menimbulkan kesulitan mencapai ketrampilan yang lebih tinggi. Gangguan dalam pemrosesan sensori ini menimbulkan berbagai masalah fungsional dan perkembangan, yang dikenal sebagai disfungsi sensori integrasi

    Prevalensi gangguan proses sensori berkisar 5%-10% pada anak tanpa kecacatan dan mencapai 40%- 88% pada anak dengan berbagai kecacatan. Penelitian Ahn3 dan Williames dkk4 pada populasi normal anak TK (taman kanak-kanak) di Amerika Serikat memperlihatkan prevalens gangguan pemrosesan sensori 5,3%. Pada keadaan gangguan proses sensori, input sensori dari lingkungan dan dari dalam tubuh bekerja secara masing-masing, sehingga anak tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Tahapan proses sensori meliputi pengenalan (sadar adanya sensasi), orientasi (memberikan perhatian pada sensasi), interpretasi (mengerti makna informasi yang datang), dan organisasi (menggunakan informasi untuk menghasilkan suatu respons). Respons yang dihasilkan dari pemrosesan sensori dapat berupa perilaku emosi, respons motorik, atau respons kognitif.


Dasar teori Sensori Integrasi


    Asumsi dan postulat teori sensori integrasi dibentuk berdasarkan penelitian neurofisiologi. Dasar teori sensori integrasi adalah adanya plastisitas sistem saraf pusat, perkembangan yang bersifat progresif, teori sistem dan organisasi sistem saraf pusat, respons adaptif, serta dorongan dari dalam diri. Dasar rasional intervensi sensori integrasi adalah konsep neuroplasitistas atau kemampuan sistem saraf untuk beradaptasi dengan input sensori yang lebih banyak. Pengalaman dan input sensori yang kaya akan memfasitasi perkembangan sinaptogenesis di otak. Berdasarkan konsep progresi perkembangan, sensori integrasi terjadi saat anak yang berkembang mulai mengerti dan menguasai input sensori yang ia alami. Fungsi vestibular muncul pada usia gestasi 9 minggu dan membentuk refleks Moro, sedangkan input taktil mulai berkembang pada usia gestasi 12 minggu untuk ekplorasi tangan dan mulut. Sistem sensori akan terus mengalami perkembangan sejalan dengan bertambahnya usia anak. Pada teori sistem dan organisasi sistem saraf pusat, proses sensori integrasi diyakini terjadi pada tingkat batang otak dan subkortikal. Proses yang lebih tinggi di tingkat kortikal diperlukan untuk perkembangan praksis dan produksi respons adaptif. Proses pada tingkat kortikal bergantung pada adekuat tidaknya fungsi dan organisasi pusat otak yang lebih rendah

    Konsep keempat teori sensori integrasi yang membedakannya dari model perkembangan sensori motor lain adalah stimulasi sensori yang menekankan pencapaian respons adaptif. Respons adaptif ini bervariasi pada setiap anak yang bergantung pada tingkat perkembangan, derajat integrasi sensori, dan tingkat ketrampilan yang tercapai sebelumnya. Respons adaptif mencerminkan kemampuan anak menguasai tantangan dan hal-hal baru. Konsep kelima teori ini adalah dorongan untuk aktualisasi diri yang menjadi hal terpenting dalam perkembangan sensori integrasi. Dorongan dari dalam diri ini terwujud dalam bentuk eksplorasi tanpa lelah dan kegembiraan saat anak berhadapan dengan tantangan untuk mencapai suatu tujuan. Namun motivasi internal ini kurang atau tidak dimiliki oleh anak dengan disfungsi sensori integrasi



Prinsip terapi sensori integrasi

    Para ahli terapi sensori integrasi dari Amerika Serikat telah menyusun konsensus tentang elemen inti terapi sensori integrasi (Tabel 1). Parham dkk (2007) menganalisis apakah berbagai penelitian yang menggunakan pendekatan terapi sensori integrasi telah menerapkan elemen inti secara konsisten. Dari 34 penelitian yang dianalisis, Parham dkkmemperlihatkan bahwa sebagian besar peneliti secara eksplisit mendeskripsikan strategi intervensi yang tidak konsisten dengan elemen inti terapi sensori integrasi. Dari sepuluh elemen proses, hanya satu elemen yang digunakan oleh semua studi, yaitu memberikan rangsangan sensori. Peneliti menyatakan bahwa hal ini wajar karena memang semua penelitian yang menggunakan prinsip sensori integrasi akan memberikan rangsangan sensori yang sebesar-besarnya. Keseluruhan elemen proses diterapkan hanya pada dua (6%) penelitian, sedangkan sebagian besar penelitian menerapkan kurang dari lima elemen proses yang merupakan elemen inti terapi sensori integrasi. Terapi sensori integrasi menekankan stimulasi pada tiga indera utama, yaitu taktil, vestibular, dan proprioseptif. Ketiga sistem sensori ini memang tidak terlalu familiar dibandingkan indera penglihatan dan pendengaran, namun sistem sensori ini sangat penting karena membantu interpretasi dan respons anak terhadap lingkungan


Daftar pustaka

1. Cigna medical coverage policy. Sensory and auditory integration therapy – facilitated communication. Diunduh dari: http://www.cigna.com/customer_care/ healthcare_professional/coverage_positions/medical/mm_0283_coveragepositioncriteria_sensory_auditory_integration_therapy. pdf. Diakses tanggal 22 Mei 2010.

2. Parham LD, Cohn ES, Spitzer S, Koomar JA, Miller L, Burke JP, dkk. Fidelity in sensory integration intervention research. Am J Occup Ther 2007;61:216-27.

3. Elina Waiman, Soedjatmiko, Hartono Gunardi, Rini Sekartini, Bernie Endyarni. Sensori Integrasi; Dasar dan efektifitas terapi. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS Dr. Cipto Mangunkusumo, November 2016 Jakarta

0 comments:

Post a Comment