Sunday, 22 November 2020

Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)

Mengenal Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)

Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) adalah terapi yang menggunakan arus listrik untuk mengatasi nyeri karena berbagai kondisi, dari gangguan saraf operasi, hingga nyeri akibat persalinan. Terapi TENS dilakukan dengan mesin berukuran kecil yang disebut TENS unit. Mesin ini berfungsi menghantarkan arus listrik bervoltase rendah ke dalam sistem saraf. Arus listrik akan memasuki tubuh melalui dua buah elektroda yang ditempelkan pada kulit.

Fisika Dasar TENS dan Trabert

Transcutaneus electrical nerve stimulation (TENS) merupakan suatu cara penggunaan energi listrik untuk merangsang saraf melalui permukaan kulit ( Parjoto, 2006 ). Menurut Jonhson (2000) yang dikutip oleh Parjoto (2006) membedakan TENS menjadi empat tipe yaitu : (1) tipe konvensional , (2) AL TENS, (3) INTENSE TENS, (4) Pulse Burst TENS.

TENS konvensional dengan spesifikasi sebagai berikut : target arus adalah mengaktivasi syaraf berdiameter besar, frekuensi sampai dengan 200Hz, intensitas rendah pada kontinyu, durasi stimulus 100-200m detik, sensasi yang timbul parestesi yang kuat dengan sedikit kontraksi, durasi terapi secara terus menerus, mekanisme analgetik tingkat segmental, posisi elektroda titik nyeri atau area dan dermatom yang sama.

Al TENS dengan spesifikasi sebagai berikut: terget arus adalah mengaktivasi motorik, serabut saraf G III atau ergoreseptor dan A alpa, sensasi yang diinginkan kontraksi otot fasik yang kuat tapi nyaman, karekteristik fisika frekuensi rendah, intensitas tinggi dan durasi 100-200m detik, penempatan elektroda pada motor point atau miotom yang sama, profil analgesik terjadi setelah 30 menit terapi dan menghilang > 1 jam setelah alat di matikan. Durasi terapi 30 menit setiap kali terapi, mekanisme analgesik ekstra segmental atau segmental.

Tipe INTENSE TENS dengan ciri: target arus mengaktivasi saraf berdiameter kecil, jaringan yang teraktivasi adalah nosiseptor, sensasi yang terjadi terasa tak nyaman yang masih dapat ditoleransi pasien, fisika dasar frekuensi 200Hz, durasi stimulus > 100m detik dan intensitas tertinggi yang masih dapat ditoleransi. Penempatan elektroda di area yang nyeri atau sebelah proksimal titik nyeri atau pada cabang utama saraf yang bersangkutan, profil analgesik < 30 menit tetapi sudah bisa terjadi sedang pengaruh analgesiknya > 1 jam kadang dijumpai hiposentesia, durasi terapi < 15 menit, mekanisme analgesik periferal, ekstra segmental, maupun segmental.

Tipe Pulse Burst mempunyai fisika dasar frekuensi 1 – 10 Hz, waktu durasi 200 μ S atau ( simetris 2, 5 KHz ). Penempatan elektroda di tempatkan pada syaraf perifer / distal motor point ( biasanya terletak 1/3 proximal dari muscle belly ). Lama pemberian arus 20 – 45 menit agar tidak terjadi kelelahan otot karena pada arus pulse burst TENS terjadi kontraksi otot.

Trabert menggunakan istilah ’ arus 2 – 5’ untuk mengacu pada suatu arus IDC dengan pulse rectanguler yang mempunyai jangka waktu 2 ms dan fase interval 5 ms. Trabert sendiri tidak menjelaskan untuk pilihan parameter. Namun, banyak bekerja menggunakan terapi arus trabert ini cocok dan mengaplikasikan dengan baik. Ada efek yang luar biasa dan nyeri bisa siap sedia muncul setelah pengobatan pertama, dan bisa berakhir untuk beberapa jam.

Trabert diuraikan menjadi 4 tipe lokasi untuk elektrode ( EL = Lokasi Elektrode ), corespond yang baik yang mana dengan segmental teori pada elektro terapi. Polaritas tergantung pada area target. Sebagai contoh, EL I di gunakan untuk mengobati sakit kepala dan nyeri leher. Pada pengobatan sakit kepala elektrode negatif di posisikan caudal berkenaan dengan elektode positif, sedang dalam pengobatan nyeri leher yang menyebar pada lengan tangan elektrode negatif di posisikan proksimal berkenaan dengan hal itu elektrode positif. Posisi elektrode apakah sangat cocok untuk beberapa bagian aplikasi. Sebagai contoh, EL I apakah terutama sekali yang pantas untuk pengobatan tentang intermitten claudication. Jika kondisi bilateral, electrode negative bisa di di posisikan dalam daerah gluteal.

Waktu itu arus amplitudo akan mengumpul, bantuan akan terjadi perbaikan yang cepat, masih ada kekurangan dari perubahan frekuensi. Setelah jangka pendek ini, pasien akan tidak lama merasakan arus yang kuat pada awal pengobatan. Oleh karena itu, Trabert di rekomendasikan bahwa amplitudo bisa meningkat, sampai pada batas toleransi. Amplitudo ini meningkat dengan beberapa langkah sampai kontraksi otot terjadi.

Kontraksi otot ini akan lebih jelas atau lebih nampak. Kontraksi ini mungkin menyokong untuk meningkatkan kerja dari otot ( mekanisme pompa otot ). Setelah kontraksi awal untuk mengurangi, arus amplitudo seharusnya yang di tingkatkan lagi. Pada praktek, cara itu arus amplitudo meningkat pada interval dari satu menit. Batas dari toleransi umumnya yang di usahakan untuk di dapatkan 5 – 7 menit, setelah yang amplitudo yang sekarang yang tidak lagi di tingkatkan. Pada beberapa kasus, arus amplitudo dari 70 – 80 mA mungkin di capai. Walaupun nilai yang langsung secara relatif, amplitudo itu di perlukan untuk mendapatkan ketebalan ( minimum ketebalan 1 cm ). Elektroda harus di tetapkan dengan kuat. Dalam kaitannya otot menimbulkan kontraksi, menggunakan bantuan karung berisi pasir tidaklah selalu cukup. Di dalam literature, referensi di buat untuk maksimum waktu pengobatan selama 15 menit. ( Adel RV,1995).

Pengaruh Fisiologis arus listrik terhadap tubuh manusia

Pengaruh fisiologis stimulasi listrik terhadap jaringan tubuh adalah sebagai berikut: pengaruh fisiologis stimulasi listrik terhadap jaringan tubuh adalah; 

1) Tingkat seluler; 

(a) eksitasi saraf tepi / perifer, 

(b) perubahan permiabilitas membran sel jaringan non eksitatori, 

(c) modifikasi formasi osteklas dan osteoklastik, 

(d) modifikasi formasi fibrolas dan fibrolastik, 

(e) modifikasi mikrosirkulasi - arterial, venous dan limfatik ( aliran kapiler ), 

(f) perubahan konsentrasi protein dan sel darah, 

(g) perubahan aktivitas enzim seperti SDH ( succinate dehydrogenase ) dan atau ATPase, (h) perubahan sintesa protein, 

(i) modifikasi ukuran dan konsentrasi mitokondria, 


2) Tingkat jaringan; 

(a) kontraksi otot dan efeknya terhadap kekuatan otot, kecepatan kontraksi serta daya tahan terhadap kelelahan, 

(b) kontraksi otot-otot polos dan rileksasi yang berdampak pada aliran darah di arteri maupun vena, 

(c) regenerasi jaringan, termasuk tulang, ligamen, jaringan ikat dan kulit, 

(d) remodeling jaringan termasuk pelunakan, penguluran, penurunan viskositas serta penyerapan cairan dari rongga sendi dan rongga interstisial, 

(e) perubahan suhu jaringan dan keseimbangan kimiawi, 

3) Tingkat segmental; 

(a) kontraksi sekelompok otot dan pengaruhnya terhadap gerakan sendi serta aktivitas otot sinergis, 

(b) gaya pompa otot yang akan berpengaruh terhadap aliran limfatik, vena dan aliran darah arteri ( makrosirkulasi ), 

(c) perubahan aliran limfatik dan aliran darah arteri yang bukan disebabkan oleh pengaruh gaya pompa atot rangka, 

4) Tingkat sistemik; 

(a) efek analgetik yang berhubungan dengan polipeptida endogen seperti betaendorfin, enkhepalin, dopamin dan dimorfin, 

(b) efek analgetik yang berhubungan dengan neurotransmitter seperti serotonin dan bahan P, 

(c) efek sirkulasi yang berhubungan dengan polipeptida seperti VIP ( vasoactive intestinal polypeptides ), 

(d) modulasi aktivitas organ internal seperti seperti fungsi ginjal dan jantung (Alon, 1987).

 

DAFTAR PUSTAKA 

1. EFEKTIFITAS DAN KENYAMANAN TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION (TENS) PULSE BURST DAN ARUS TRABERT DALAM MENGURANGI NYERI KRONIK DI LUTUT PADA USIA LANJUT. TB Santoso W Fitriyani - 2013 - publikasiilmiah.ums.ac.id

0 comments:

Post a Comment